Selasa, 11 Agustus 2015

Pengertian Emosi

Definisi Emosi
Emosi banyak sekali jenisnya. Sebagai perbandingan, dalam bahasa inggris setidaknya ditemukan lebih dari 500 kata untuk menggambarkan emosi  (Averill, 1975 dalam Feldman, 2003). Sering kali tidak ada keseragaman dalam memberi nama pada jenis emosi tertentu karena sangat tergantung pada banyak faktor, seperti perilaku yabg tampak (misalnya: menangis, tertawa),  rangsangan yang memicu emosi tersebut (benda yang menakutkan, ucapan yang memuji), reaksi fisiologik yang timbul (debaran jantung atau adrenalin meninggi atau normal), watak individu itu sendiri (pemberani, penakut), dan situasi sosial-budaya setempat (perempuan lebih manja, pria jangan menangis, dan sebagainya).

Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa emosi adalah suatu konsep yang sangat majemuk sehingga tidak ada satu pun definisi yang diterima secara universal. Studi tentang emosi tidak hanya dilakukan oleh ilmu psikologi, tetapi juga oleh sosiologi, neurologi, etika, dan filsafat. Hal tersebut menambah lagi keragaman definisi tentang emosi.
Walaupun demikian, berikut penulis akan paparkan definisi tentang emosi dari beberapa ahli, yakni sebagai berikut :

-          Arnold dan Gasson (1954), Emosi atau afek dianggap sebagai kecendrungan yang dirasakan mengarah pada sebuah objek yang dinilai cocok atau menjauh dari sebuah objek yang dinilai tidak cocok, yang diperkuat oleh perubahan badaniah tertentu
-          Tooby & Cosmides (1990), setiap kedaan emosional memanifestasikan fitur-fitur rancangan yang “didesain” untuk mengatasi masalah keluarga atau masalah adaptif tertentu, sementara mekanisme-mekanisme psikologisnya menunnjukkan konfigurasi yang unik
-          Lazarus (1991), emosi adalah reaksi psikofisologis terorganisasi terhadap kabar tentang hubungan yang sedang berjalan dengan lingkugnan
-          Ekman (1992), Emosi dianggap telah berevolusi melalui nilai adatifnya dalam menangani tugas-tugas fundamental kehidupan. Setiap emosi mempunya fitur-fitur yang mencakup: sinyal, fisiologi, dan peristiwa antesedennya, setiap emosi juga memiliki karakteristik-karakteristik yang sama dengan emosi-emosi lain: anset cepat, durasi pendek, terjadi tanpa diminta, automatic appraisal, dan koherensi di antara respons-respons.
-          Parrot (2004), sebuah reaksi terhadap peristiwa yang signifikan secara pribadi, di mana “reaksi” itu dianggap mencakup reaksi biologis, kognitif, dan perilaku, maupun perasaan subjektif senang atau tidak senang

Komponen-komponen emosi
Untuk setiap semosi yang berbeda, terdapat tiga komponen di dalamnya, yaitu:

1.       Pengalaman subjektif bahagia, sedih, marah, dan sebagainya.

2.       Perubahan-perubahan fisiologis yang melibatkan ANS dan sistem endokrinnya, yang hanya bisa sedikit sekali, kalaupun bisa, kita kontrol secara sadar. Akan tetapi, kita bisa menjadi sar akan beberapa efeknya (misalnya “butterflies in the stomach”, merinding, dan keringat bercucuran).

3.       Perilaku terkait seperti tersenyum, menangis, ,mengerutkan kening, melarikan diri, dan “diam terpaku”.Komponen kedua dan ketiga  kadang-kadang di kategorisasikan menjadi satu sebagai “reaksi-reaksi badaniah”, yang pertama disebuat visceral dan yang kedua disebutu skeletal. Perbedaan ini masing-masing berkaitan dengan ANS san CNS. Akan tetapi, meskipun melarikan diri sebagian besarr berada di bawah kendali sengaja (CNS), menangis dan berkeringat jelas bukan-tetapi di ketiga kasus itu menyimpulkan keadaan emosional orang lain dari perilaku yang dapat dilihat.

Teori-Teori emosi

Teori evolusi Darwin
Publikasi The Expression of Emotions in Man and Animals (1872) merepresentasikan upaya formal pertama oleh ilmuwan, untuk mempelejari emosi. Banyak didasarkan pada bukti-bukti anekdotal, Darwin berpendapat bahwa respons-respons emosional tertentu (seperti ekspresi wajah) cenderung menyertai keadaan emosional yang sama ada manusia dari semua ras dan kebudayaan, bahkan bagi mereka yang terlahir tuna netra. ( pernyataan ini didukun goleh penelitian Ekman dan Friesen) Seperti perilaku-perilaku manusia lainnya, ekspresi emosi manusia adalah produk evolusi

Teori James-Lange
Jika ada common sense tentang emosi, itu adalah sesuatu yang terjadi, yang menghasilkan pengalamen emosional subjektif dalam diri kita dan, sebagai akibatnnya, perubahan badaniah dan/atau perilaku terjadi. James (tahun 1878) dan kemudian tahun 1890) dan lange (1885, pada awalnya independen dari James) menjungkirbalikkan pandangan common-sense ini. Mereka mengatakan bahwa pengalaman emosional kita adalah hasil/akibat, bukan penyebab perubahan tubuh yang dipersepsi.
Untuk memberikan contoh yang digunakan oleh james, pandangan common-sense mengatakan bahwa kita bertemuseekor beruang, ketakutan, dan lari. Teori James-Lange mengatakan bahwa kita takut karena lari! Serupa dengan itu, “kita merasa sedih karena kita menangis, marah karena kita menyerang, takut karena kita gemetar….” Menurut James (1890), perubahan jasmani secara langsung mengikuti persepsi tentang fakta yang exciting, dan… perasaan kita tentang perubahan yang sama pada saat perubhan itu terjadi itulah yang disebut emosi.

Teori Cannon-Bard
Dana (1921) meneliti seorang pasien dengan lesi sumsum tulang belakang meskipun tidak memiliki fungsi simpatetik dan gerakan muskularnya sangat terbatas, pasien menunjukkan beragam emosi, termasuk sedih, gembira, jengkel, dan afeksi. Serupa dengan itu Chwalisz et al (1988) menemukan bahwa para penderita sumsum tulang belakang (yang tidak memiliki sensasi di banya bagian tubuhnya) mengalami emosi yang sama intensnya dengan sebelum cedera, sama instensnya dengan orang-orang “normal, dan sama instensnya dengan orang-orang dengan cedera sumsum tulang belakang yang tidak memblokir sensasi badaniahnya. Temuan-temuan ini tampaknya mendukung pandangan Cannon.
Jadi, apa yang berbeda tentang teori cannon (yang dikenal sebagai teori cannon-bard)? Perhatikan Ilustrasi di bawah ini :









Seperti ditunjukkan oleh gambar di atas, emosi subjektifnya cukup independen dari perubahan-perubahan fisiologis yang terlibat di dalamnya. Stimulus penghasil-emosi diproses oleh thalamus; ini mengirimkan impuls-impuls ke korteks, di mana emosi dialami secara sadar, dan ke hipotalamus yang siap melakukan perubahan-perubahan fisiologis otonom tertentu. Teori Cannon-Bard menyatakan bahwa emosi yang dirasakan dan reaksi tubuh dalam emosi tidak tergantung satu sama lain, keduanya dicetuskan secara bergantian.

Cognitive Labelling theory Schachter
Menurut schachter (1964), Cannon keliru dalam memikirkan bahwa perubahan tubuh dan pengalaman emosi independen satu sama lain, dan teori James-Lange keliru dalam  mengatalam bahwa perubahan fisiologis menyebabkan perasaan emosi. Meskipun memiliki keyakinan yang sama dengan James-Lange bahwa perubahan fisiologis mendahului  pengalaman emosi, Schacter berpendapat bahwa kita harus memutuskan emosi mana yang kita rasakan. Label yang kita lekatkan pada arousal kita bergantung pada apa yang mengatribusikan arousal itu.
Schachter mengatakan bahwa arousal  fisiologis (faktor 1) perlu  untuk mengalami emosi, tetapi sifat arousal-nya immaterial-hal yang enting adalah bagaimana kita menginterpretasikannya (faktor 2). Jadi, teori itu juga dikenal sebagai teori two-factor theory if emotion (teori dua-faktor emosi). Eksperimen klasik yang mendemonstaraiskan teori kognitif emosi adalah “eksperimen adrenalin” Schacter dan Singer (1962) (Gross Psychology The Science Of Mind and Behaviour 2013 halaman 195 key study 10.5).
Schacter dan Singer menguji tiga hipotesis yang saling berkaitan tentang interaksi antara faktor-faktor fisiologis dan kognitif di dalam pengalaman emosi.

1.       Jika kita mengalamai keadaan arousal  fisiologis dan kita tidak memiliki penjelasan langsung untuknya, kita member “label” kedaan ini mendeskripsikannya dalam kaitannya dengan kognisi-kognisi yang tersedia. Jadi, keadaan arousal yang persis sama bisa menerima lebal-label yang berbeda (misalnya “euphoria”/”amarah”-kelompok B dan C). (arousal fisiologis dan pelabelan kognitif diperlukan).

2.       Jika kita mengalami sebuah kedaan arousal  fisiologis dan kita memiliki penjelasan yang sepenuhnya tepat (misalnya, “saya baru saja diberi suntukan adrenalin”) maka kita akan memberikan “label” kepada keadaan ini  (kelompok A).

3.       Diberi keadaan-kedaan yang sama, kita akan bereaksi secara emosional atau mendeskripsikan perasaan kita sebagai emosi hanys ejauh kita mengalamai keadaan arousal fisiologis (ketiga kelompok). (Arousal fisiologis diperlukan)

Cognitive appraisal atau affective primacy?
Ketika mengevaluasi teori James-lange, kita mencatat bahwa itu tidak mampu menjelaskan mengapa seekor beruang , misalnya, membuat kita lari terbirt-birit. Dengan kata lain, ia tidak mampu memperhitungkan appraisal kita terhadap “stimulus” emosionalnya. Appraisal  adalah pemikiran yang mengjasilkan emosi (Parrot, 2004), dan teori appraisal adalah salah satu pengembangan cognitive labeling theory schacter.

Menurut Lazarus (1982), derajat pmrosesan kognitif tertentu adalah salah satu prasyarat esensial agar sebuah reaksi afektif terhadap sebuah stimulus terjadi, dan merupakan salah satu figure integral semua keadaan emosional. Bagi lazarus: hasil-hasil emosi dari persepsi evaluatif terhadap sebuah hubungan (aktual, yang dibayangkan, atau yang diantisipasi) antara seseorang (atau seekor binatang) dengan lingkungannya. Ia mengatakan bahwa appraisal kognitif selalu mendahului reaksi afektif apa pun, meskipun ia tidak harus melibatkan pemrosesan sadar apa pun. Zajonc (1984) berpendapat bahwa secara umum hanya ada sedikit bukti untuk keberadaan atau sifat pemrosesan kognitif pra-sadar tersebut (meskipun studi tentang persepsi subliminal  menunjukkan sebaliknya). Zajonc (1980b) berpendapat bahwa kognisi dan afek bekerja sebagai sistem-sistem yang independen, dan sebuah respons emosional dapat mendahului proses kognitif di dalam keadaan tertentu/respons emosional dapat terjadi tanpa melibatkan kognisi apapun. Sebagai contoh, kita mungkin bertemu seseorang dalam waktu yang sangat singkat dan membentuk sebuah kesan positif atau negative tentang orang itu, meskipun kelak tidak dapat mengingat detail informasi apa pun tentang orang itu (Eysenck & Keane, 1990). Pendekatan appraisal kognitif didasarkan pada pandangan bahwa orang-orang terisolasi secara sosial dan dengan demikian sangat mengabaikan pentingnya konteks sosial.

Referensi:

Sarwono, Sarlito W. (2009). Pengantar psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers

Gross, R. (2013). Gross Psychology The Science Of Mind and Behaviour. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.







1 komentar: