Jumat, 31 Juli 2015

ALIRAN-ALIRAN DALAM PSIKOLOGI


ALIRAN-ALIRAN DALAM PSIKOLOGI

Setelah psikologi berdiri sendiri, lambat laun para ahli psikologi mengembangkan sistematika dan metode-metodenya sendiri yang saling berbeda satu sama lain. Dengan demikian, timbul apa yang disebut aliran-aliran dalam psikologi.
Sejak dahulu, aliran-aliran itu sangat penting artinya dalam membina semangat para ahli dalam berkompetisi mendapatkan penemuan-penemuan yang baru dan saling kritik dan koreksi  terhadap aliran-aliran lawannya. Aliran-aliran itu mengajukan teori-teorinya masing0masing yang banyak di antaranya menjadi dasar daripada teori-teori psikologi modern masa kini. Beberapa aliran yang terkemuka dengan teori-teorinya masing-masing yang akan dikemukakan di bawah ini.

Elementisme atau Strukturalisme. Airan in diajukan oleh W. Wundt (1832-1920) dari laboratoriumnya di Leipzig. Windt pada masa itu (1879) sangat mengutamakan penyelidikan tentang struktur kejiwaan manusia dan ia mendapati bahwa jiwa manusia itu terdiri dari berbagai elemen (bagian) seperti pengeinderaan, perasaan, ingatan, dan sebagainya. Masing-masing elemen itu dikaitkansatu dengan lain oleh asosiasi. Oleh karena itu, aliran Wundt dinamakan elementisme, strukturalisme, dan asosiasionisme.

“Behaviorisme” atau Psikologi “S-R”, adalah aliran yang khusunya terdapat di amerika serikat. Aliran ini ditemukan oleh John B. Watson (1878-1958). Ia menentang pendapat yang umum berlaku di saat itu bahwa dalam eksperimen-eksperimen psikologi diperlukan intropeksi.
Intropeksi yang berarti mengamati perasaan sendiri, diginakan dalam eksperimen-eksperimen di laboratorium wundt untuk mengetahui ada atau tidak adanya perasaan-perasaan tertentu dalam diri orang yang diepriksa. Jadi, orang yang diperikasa dapat mengetahui perasaan-perasaan apa yang dapat ditimbulkannya dalam eksperimen-eksperimennya, oleh karena itum psikologi wundt dikenal juga dengan nama psikologi intropeksi,pandangan ini dibawa dan dipopulerkan dari jerman ke amerika oleh salah seorang murid wundt yang bernama Edward B. Titchener (1897-1927).
Watson. Di lain pihak, memperkenalkan psikologi yang sama sekali tidak mempergunakan intropeksi. Menurut dia, proses-proses kesadaran tidak perlu diselidiki, karena yang lebih penting adalah proses adaptasi, gerakan otot-otot dan aktivitas kelenjar-kelenjar. Ia berharap dengan teorinya ini dapat dicapai objektivitas ilmiah yang sempurna, karena dalam intropeksi pengaruh faktor-faktor subjektif dari orang yang diperiksa besar sekali.
Oleh karena itu, ia lebih mementingkan perilaku terbuka yang dapat diamati dan diukur daripada perilaku tertutup yang hanya dapat diketahui secara tidak langsung, emosi gembira atau emosi sedih menurut kaum “behaviorist” adalah manifestasi dari adanya ketegangan (tarikan) otot-otot dan syaraf-syaraf tertentu.

Psikologi “Gestalt”.  Kira-kira pada saat di Amerika serikat timbuh aliran “Behaviourisme”, di Jerman timbul pula aliran yang disebut psikologi “Gestalt” adalah sebuah kata jerman yang sering diterjemahkan ke dalam bahwa inggris sebagai “form” atau “configuration” (bentuk). Aliran ini diumumkan pertama kali oleh max wertheiner pada 1912. Tokoh-tokoh lainny adalah kurt koffka (1886-1941) dan wolfgang kohler (1887-1967). Mereka kemudian pindah ke amerika, karena sebagai keturunan yahudi mereka jadi sasaran kejaran NAZI.
Teori yang mereka ajukan adalah bahwa dalam pengamatan atau persepsi suatu situasi, rangsangan ditangkap secara keseluruhan. Jadi, persepsi bukanlah penjumlahan rangsang-rangsang kecil (detail) yang ditangkap oleh alat-alat indra, melainkan merupakan suatu keseluruhan yang berarti detail-detail tadi. Misalnya, kalai kita mengamati sebuah mobil, kita tidak melihatnya sebagai susunan ban, lampu, kaca, pintu, alat kemudi, dan lain lain, melainkan kita mengamatinya benar-benar sebagai sebuah mobil, yang mempunyai arti tersendiri terlepas dari detail-detailnya. Karena itulah, meskipun mobil itu kita lihat dari depan, dari belakang, dari samping, dari dekat, dari jauh, dalam gelap, dan sebagainya, selal kita tangkap sebagai mobil, tidak sebagai benda lain. Demikian pula sebuah lagu, ia dapat dimainkan dalam tangga nada yang berbeda-beda (detailnya berubah) tanpa mengubah keseluruhan lagu itu sendiri.

Psikoanalisis. Psikoanalisis yang diperkenalkan oleh Sigmund freud (1856-1939) pada 1909. Ia dikenal dengan teoriny alam ketidaksadaran. Teori ini merupakan penemuan baru saat itu karena selama ini para ahli menyibukkan diri dengan kesadaran sebagaimana yang nyata dakan teori-teori lain yang berlaku di saat itu seperti teori asosiasi, teori intropeksi, bahaviourisme, dan sebagainya. Ketidaksadarn (unconsciousness) menurut freud berisi dorongan-dorongan yang timbul pada masa kanak-kanak oleh satu dan lain hal (misalnya karena dilarang oleh norma masyarakat) terpaksa ditekan sehingga tidak muncul dalam kesadaran. Dorongan-dorongan terlarang ini, menurut teori freud yang klasik adalah naluri seksual atau disebut juga libido sexualis dan naluri agresi atau tanatos.

Psikologi Humanistik. Psikologi humanistik adalah paham yang mengutamakan manusia sebagai makhluk hidup keseluruhan mereka tidak setuju dengan pendekatan-pendekatan lain uang memandang manusia hanya dari satu aspek saja, apakah itu hanya persepsinya (gestalt), dan refleksnya (behaviorisme), kesadarannya (kognitif), maupun alam ketidaksarannya saja (psikoanalisis). Manusia harus dilihat sebagai totalitas yang unik, yang mengandung semua aspek dalam dirinya dan selalu berproses untuk menjadi dirinya sendiri (aktualisasi diri).
Tugas psikologi, menurut paham ini, adalah mendorong potensi-potensi yang baik  pada diri seseorang dalam proses aktualisasi dirinya, karena manusia itu unik , maakn penangannya dalam psikoterapi juga harus unik.

Referensi:

Sarwono, Sarlito W. (2009). Pengantar psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers













Tidak ada komentar:

Posting Komentar