Rabu, 08 Juli 2015

TUGAS REVIEW PSIKOLOGI PENDIDIKAN

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena  hidayah serta karunianya penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir Semester. Harapan penulis, semoga tugas akhir ini bermanfaat bukan hanya bagi  dosen pengampu tetapi juga bagi para Mahasiswa fakultas psikologi yang sedang mengikuti program Sarjana 1, baik yang diselenggarakan oleh pihak Universitas Mercubuana dan Universitas lainnya.
Khusus kepada  Indra Ratna Kusuma Wardani, Msi, Penulis sampaikan terima kasih yang tak terhingga atas dorongan dan saran beliau agar penulis menerbitkan review tugas akhir ini., Namun, perlu penulis utarakan bahwa kekuranglengkapan/kekurangsempurnaan tentu masih terdapat dalam review ini walaupun pengkajian ulang telah penulis lakukan berkali-kali.
Akhirnya, saya mengharapkan bahwa review ini dapat menjadi syarat guna memenuhi tugas akhir mata kuliah Psikologi Pendidikan. kritik dan saran khususnya dari dosen pengampu amat penulis harapkan demi penyempurnaan review ini pada masa yang akan datang. Terima kasih.

Yogyakarta,  Juli 2015

Penulis






ABSTRAK
Kebanyakan psikologi menganggap kegiatan mengajar – belajar manusia adalah topik penting dalam studi psikologi. Demikian pentingnya arti belajar sehingga nyaris tak satupun aspek kehidupan manusia yang terlepas dari balajar. Namun, perbedaan persepsi dan pemahaman mengenau arti dan seluk beluk belajar selalu muncul dari satu waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi.
Kenyataan yang tak terelakkan bahwa perbedaan generasi psikologi sering pula membawa perbedaan persepsi terhadap belajar, lebih kurang 50 tahun yang lalu persepsi orang khususnya para pendidik professional sangat dipengaruhi oleh aliran behaviorisme yang didasarkan pada hasil eksperimen dengan menggunakan hewan-hewan percobaan.
Akhir akhir ini, persepsi tersebut sudah banyak berubah seiring dengan perubahan pandangan para ahli psikologi pendidikan terhadap keabsahahn (validity) dan kecermatan (accuracy) temuan riset yang menggunakan hewan – hewan itu (Lazerson, 1975). Para peneliti bidang psikologi khususnya osikologi pendidikan kini telah semakin sadar betapa dalam dan rumitnya proses berpikir siswa ketika ia belajar, sehingga perilaku seperti hewan percobaan tak layak lagi digunakan sebagai bahan kiasan (analogi) yang memadai.perubahan ini mengakibatkan berubahnya pola riset dan penggunaan metode untuk menghimpun data psikologi di bidang pendidikan.
Dalam pengertian yang agak luas, pendidikan dapat diartikan sebagau sebuh proses dengan metode – metode tertentu untuk memeroleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku sesuai dengan kebutuhan. Poerbawaka dan Harahap (1981), pendidikan yakni sebagai usaha sengaja yang selalu diartikan mampu menghantarkan peserta didik untuk menimbulkan kedewasaan dan tanggung jawab moril  dari segala perbuatannya. Istilah dewasa dan tanggung moral perlu diberi batas batas yang jelas dan konkret, umpamanya dengan cara mengacu pada tujuan pendidikan nasional, yakni :
           
“… bertujuan untuk berkembanganya pottensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat,  berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab” (UUSPN/2003 Bab II pasal 3 )

















BAB I
PENDAHULUAN
Belajar merupakan salah satu bahasan dan topik dalam ilmu psikologi. Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur  yang sangat fundamental dalam peneyelengaaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode – metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai kebutuhan, dalam pengertian yang luas dan representative pendidikan islah seluruh tahapan dan pengembangan kemampuan perilaku – perilaku manusia, juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan, berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialakmi siswa, baik ketika ia berada di sekolah, lingkungan, rumah atau keluarganya sendiri.
Oleh karenyam pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segalla aspek, bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidikn dan khususnya para guru. Kekeliruan dan ketidak lengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal – hal yang berkaitan dengannya akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik,
Adapun psikologi pendidikan disini sebagai sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan sumber –sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas sebagaui seorang guru dalam proses belajar mengajar secara lebih efektif ( Barlow, 1985). Psikologi pendidikan adalah cabang dari ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan yang memberikan sumbangsih berupa ilmu psikologi terhadap dunia pendidikan dalam kegiatan pendidikan, pembelajaran, pengambangan kurikulum, proses belajar mengajar, system evaluasi, layanan konseling, serta beberapa kegiatan utama dalan pendidikan terhadap peserta didik, pendidik, masyarakat, orang tua, dan pemerintah agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara sempurna dan tepat guna.
Konten atau isi dalam paper ini adalah tulisan tulisan dan pemikiran pemulis sebagai kritik terhadap materi psikologi pendidikan yang telah disampaikan dan diusung oleh Indra Ratna KW berserta kritik terhadap dosen pengajar mata kuliah pendidikan dalam penyampain materi pada proses perkuliahan dan proses pengajaran yang telah diadakan oleh dosen terkait.

















BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Bab I Prolog
Pada Prolog yang telah diusung oleh dosen pengampu, adalah uraian mengenai  pelbagai pandangan mengenai definisi (batasan) konsep yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. Definisi ini bersumber dari rujukan – rujukan yang memuat pandangan ahli terkemukan dalam bidang    atau displin psikologi dan pendidikan.
Alhasil, secara ringkas dapat kita tarik sebuah simpulan psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah  laku terbuka dan tertutup, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingakungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan, dan kejadian yang ada di sekitar manusia. Pendidikan dipandang sebagai sebuah konsep ideal sedangkan pengajaran adalah konsep operasional yang berujuan untuk menumbuhkembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran. Psikologi pendidikan mencakup semua hal yang bersifaat kependidikan terutama hal belajar, mengajar, dan mengajar- belajar. Prinsip, konsep, dan metode psikologi pendidikan merupakan landasan berpikir dan bertindak bagi gutu dalam mengelolan proses belajar mengajar yang selaras dengan kebutuhan dan keadaan siswa.
Saran  penulis terhadap dosen pengampu pada saat menyampaikan materi perkuliahan  Bab I yakni dosen yang sedang bertugas perlu menyampaikan masukan bahwa tidak perlu memandang psikologi pendidikan sebagai satu – satunya gudang penyimpanan jawaban – jawaban yang benar dan pasti atas persoalan- persoalan kependidikan yang saat ini tengah dihadapi. Namun, sebaliknya, tetap perlu tahu bahwa dalam psikologi pendidikan terdapat serangakaian stok informasi mengenai teori teori dan praktik belajar, mengajar, dan mengajar belajar yang dapat dipilih.dalam hal ini, pilihan seyogiyanya diselaraskan dengan kebutuhan konstektual sesuai dengan tuntutan ruang dan zaman. Dengan kata lain pilihan psikologis pendidikan harus cocok dengan keperluan “kekinian dan “kedisinian”
2.1.1. Selayang Pandang
pernyataan yang menurut penulis penting dan perlu diperjelas oleh dosen pengajar ketika membahas uraian- uraian pernyataan yang ada dalam  “Selayang Pandang , yakni :
 “ Pendidikan bukan hanya soal kemampuan untuk menguasai informasi – teknologi, tetapi kemampian untuk menginternalisasikan nilai – nilai dalam kehidupan. Proses penginternalisasian nilai ini perlu menyentuh anasir – anasir tidak sadar di dalam tiap pribadi, sehingga ia mampu secara bebas untuk memilih dan bertanggungjawab penuh atas pilihannya serta agar mengenal distori – distorsi kesadaran".
Pernyataan di atas rentan menimbulkan multitafsir bagi para pembaca, dosen pengajar sudah seharusnya perlu memberi batas – batas yang jelas dan konkret, agar tidak menimbulkan tafsir yang serampangan dari pihak pembaca yang dalam hal ini adalah peserta didik.

2.2. Perbedaan Individual dan Prinsip – Prinsip Perkembangan Dalam Proses belajar
2.2.1 Bab II Perbedaan Individual (Individual Defferences)
Perhatian khusus terhadap proses belajar anak – anak berbakat belum banyak di berikan. Hal ini antara lain disebabkan masalah – maslaah identifikasi terhadap anaak yang berbakat, belum adanya guru yang kompeten untuk mengajar anak – anak berbakat, ketidaktahuan orangtua dan masayarakat mengenai hal tersebut ( Wimbartum dakam Azwarm 1999).
Ketika mengajar di dalam kelas guru akan mendapati bahwa dari sekian banyak siswa yang dihadapinya itu ternyata beragam dalam hal karakteristik fisiknya, gaya dan cara bertindak, berbicara, berkomunikasi, mengerjakan tugas, memecahkan masalah, dan sebagainya. Bagi para guru, dari sekian banyak keragaman psikologis yang sangat penting untuk dipahami ialah keragaman siswa dalam hal kecakapan dan kepribadiannya.
Kecakapan yang dimiliki individu ini diperoleh bukan hanya karena keturunannya semata, tetapi juga karena perkembangan, dan pengalamannya. Sesungguhnya ia memang dianugerahi potensi dasar atau kapasitas (capacity) untuk berperilaku inteligen.
Kecakapan dipandang sebagai perwujudan dari kualifikasi intelegensi dan perilaku individu, sedangkan konsep dalam keperibadian menunjukkan kepada kualitas toral perilaku individu yang tampak dalam melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungannya secara unik.
Adapun yang dimaksud unik disini ialah menjelaskan bahwa kualitas perilaku ini besifat khas sehingga dapat dibedakan individu yang satu dengan yang lainnya. Keunikan ini didukng oleh struktur organisasi cirri- cirri jiwa raganya (psychophysical system) yang terbentuk secara dinamis.
Tidak ada yang perlu penulis kritik dalam hal ini karena uraian dan penjelasan  yang telah diberikan dosenpengajar  sudah cukup jelas. dosen menjelaskan inti sari dari materi yang di bahas, menerangkan garis besar dari materi yang dibahas dengan melibatkan mahasiswa dalam memahami dan menganalisis isi materi.
2.2.2 Bab III (Perkembangan dan Proses Belajar)
Perkembangan sebagai rentetan perubahan jasmani dan rohani manusia menuju ke arah yang lebih maju dan sempurna. Bab ini merupakan uraian yang menjelaskan batasan perkembangan manusia yang meliputi dimensi ( cakupan dan ukuran ) rohaniah dan jasmaniah, definisi, faktor – faktor yang mempengarui perkembangan, faktor – faktor yang berdampak positif dan juga berdampak negative baik bagi perkembangan yang berdimensi psikologis maupun biologis.
Perkembangan pada asanya ialah tahapan perubahan psiko- fisik ( perkembangan motor, perkembangan kognitif, perkembangan social dan moral)  manusia yang progresif sejak lahir hingga akhir hayat, proses perkembganan dihubungkan dengan tugas – tugas dan fase fasenya. Aspek aspek fisik yang berkembang ialah; 1) system syaraf; 2)otot – otot; 3) konkret –operasional;  4) formal-operasional.
Dosen telah menjalaskan cukup jelas untuk materi ini, hanya penulis memberikan saran untuk lebih merperbanyak penggunaan  istilah – istilah yang ada dalam psikologi perkembangan untuk menjelaskan materi terkait, supaya dapat dan memperluas pengetahuan dan menstimulasi ingatan peserta didik  terhadap terminologi – terminologi dalam psikologi perkembangan yang banyak digunakan dalam bab dan subbab ini.
2.3. Ikhwal Belajar dan kaitannya dengan Proses pendidikan
2.3.1 Bab IV dan V
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelengaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada prose belajar yang dialami siswa.  Secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman  dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Dalam perspektif psikologi, antara belajar, memori, dan pengetahuan, terdapat hubungan yang tak terpisahkan. Memori yang biasanya kita artikan sebagai ingatan sesungguhnya adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, dan ia merupakan storage system, yakni sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia.
 Secara pragmatis teori belajar dapat dipahami sebagai sebuah prinsip umum atau kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelaswan atas sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar.
Teori – teori pokok mengenai belajar terdiri atas: 1) koneksionisme; 2) pembiasaan klasik; 3) pembiasaan perilaku respons; 4) teori belajar kognitif. Teori kesatu, kedua, dan ketiga bersigat behavioristik (perilaku jasmaniah semata) sedang teori keempat bersifat kognitif, yakni belajar adalah pristiwa mentak bukan semata – mata behavioral.
Menurut aliran kognitif, setiap siwa lahir dengan bakat kemampuan mental yang menjadi basis kegiatan belajar. Factor bawaan ini memungkinkan siswa untuk menentukan merespons atau tidak terhadap stimulus, sehingga belajar tidak bersifat otomatis seperti robot.
Proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Belajar sebagai aktivitas yang berproses, sudah tentu di dalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap. Perubahan-perubahan tersebut timbul melalui fase-fase  yang antara satu dengan lainnya bertalian secara berurutan dan fungsional. Menurut Jerome S. Bruner, salah seorang penentang dari teori S-R bond (Barlow, 1985), dalam proses belajar, siwamenempuh tiga fase yakni, meliputi : 1)informasi (penerimaan materi); 2) transformasi (pengubahan materi dalam memori); 3) evaluasi (penilain penguasaan materi).
Factor factor yang memengaruhi belajar terdiri atas  fator internal (fisiologis, psikologis, dan intelegensi) dan factor eksternal (lingkkungan social, lingkungan nonsosial seperti rumah,gedung,sekolah,dan sebagainya).
2.3.2 Manusia sebagai Sang pembelajar
Tugas, tanggung, jawab, dan panggilan pertama seorang manusia adalah pembelajar, sedangkan pelajaran pertama dan terutama yang perlu dipelajarinya adalah belajar menjadikan dirinya semanusiawi mungkin. Manusia satu-satunya makhluk yang berpotensi untuk pertama-tama belajar tentang dirinya, kemudian berusaha belajar menjadi dirnya, dengan belajar mengeksperikan potensinya ke dunia luar (inside out). Adapun ketiga tahap tersebut dikenal sebagai “proses aktualisasi” , yakni proses yang dialami manusia pembelajar semenjad dari human being menuju being human.
Ciri khas perubahan dalam belajar meliputi perubahan – perubahan yang bersifat intensional(disengaja), positif dan aktif (bermanfaat dan atas hasil usaha sendiri), efektif dan fungsional (berpengaruh dan mendorong timbulnya perubahan baru). Manifestasi dari perilaku belajar tampak dalam kebiasaan, keterampilan, pengamatan, berpikir secara asosiatif dan daya ingat, berpikir rasional dan kritis, sikap, inhibisi(menghindari perilaku mubazir), apresiasi, perkembangan tingkah laku afektif.Ruth beard (1970) menyatakan bahwa hasil didikan perguruan tinggi harus mampu menghasilkan manusia yang berilmu, cakap, serta punya sikap moral.
Kritik dan saran penulis Pada Bab IV dan V Belajar, hendaknya dosen pengajar menambahkan contoh-contoh yang lebih konkrit dan jelas, serta penambahan porsi ketika menjelaskan kasus – kasus yang relevan dengan materi perkuliahan dan mengurangi cerita – cerita yang tidak ada kaitannya saat menjelaskan materi pelajaran terkait, penulis dalam hal ini sebagai partisipan dan peserta didik dalam proses pembelajaran terkadang tidak mampu menangkap substansi – substansi dari materi yang dijelaskan secara utuh.
Pada sub bab “manusia sebagai pembelajar” baik yang penulis tangkap ketika mengikuti proses perkuliahan  dan yang penulis baca pada “replika” yang diusung oleh dosen pengampu. penulis tidak mampu melihat kesimpulan materi secara utuh dan pokok permasalahan yang ingin diarahkan dosen dalam narasinya. Tulisan tersebut terkesan sumbang dan tanpa arah, penulis melihat tidak ada relasi antara   3 paragraf awal dan paragraf setelahnya. Dosen pengampu di satu sisi menyajikan manusia seabgai pembelajar sebagai sebuah konsep dan di satu sisi mengarahkan pembaca pada problematika pendidikan yang saat ini tengah berlangsung terutama pada jenjang perguruan tinggi.
Konsep-konsep pendidikan yang ideal sendiri hendaknya dikemukakan oleh dosen pengampu  seperti yang dikemukakan oleh Ivan Illich bahwaPendidikan itu sebagai bagian dari pranata sosial yang ada, memiliki fungsi yang sangat penting dalam mengembangkan suatu hubungan yang mantap dan bermakna dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan itu untuk memanusiakan manusia. Pendidikan perlu diarahkan untuk kepentingan masyarakat dan bukan dimonopoli oleh lembaga-lembaga yang memandang masyarakat sebagai bawahannya. Nilai-nilai pengembangan kreativitas merupakan nilai-nilai yang perlu diutamakan dalam proses pendidikan. Konsep Melonggarkan pelembagaan (deinstituionalize) pengalaman pendidikan sekolah agar siswa mampu mentransformasi kultur yang ada.

2.4. Bab VI Dan VII  Mengajar dan kaitannya dengan Proses pendidikan
Mengajar pada asasnya adalah kegiatan mengembangkan seluruh potensi ranah psikologis melalui penataan lingkungan sebaik – baiknya dan menhubungkannya kepada siswa agat terjadi proses belajar.secara kuantitatif mengajar berarti menyampaika  pengetahuan sebanayak – banayaknya. Secara institusional mengajar berarti mengadaptasikan teknik mengajar sesuai dengan bakat, kemampuan dan kebutuhan siswa. Secara kualitatif mengajar berarti membantu memudahkan siswa dalam emmbentuk makan dan pemahamannya sendiri.
Pandangan mengejar sebagai ilmu hanaya menekankan pentingnya penguasaan guru atas pelbagai pengetahuan, sedangkan pandangan mengajar sebagai seni menganggap bakat keguruan lebih penting daripada pengetahuan. Rumpun model mengajar terdiri atas model-model: information processing, social, personal, dan behavioral.
Metode mengajar ialah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan penyajian materi pelajaran.metode pokok mengajar terdri atas metode-metode: ceramah, diskusi,demonstrasi, dan ceramah plus. Strategi mengejar ialah sejumlah langkah procedural untuk mencapai tujuan tertentu dan diaplikasikan dalam metode mengajar. Setiap metode mengajar memiliki kelemahan dan keunggulannya sendiri. Oleh karena itu, guru perlu bijaksana dalam memilih atau memodifikasi metode yang hendak digunakan.
2.4.1 Dimensi Etis Pendidik
Pendidikan sebenarnya merupakan tugas etis pokok, memiliki bahasan etis yang mendasar. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan adalah pelaksanaan etis dasar. Oleh karena itu, tidak dibenarkan bila ia menyimpang dari sendi – sendir etika (Indra Ratna, 1998). Santoso ( 1987) menegaskan bahwa pendidikan sebenarnya merupakan tugas moral yang tertinggi nilainya dalam kehidupan manusia dan masyarakat.
Menurut Indra Ratna (1998) tujuan esensial dari setiap upaya (proses) pendidikan adalah memanusiakan manusia (peserta didik) suapaya menjadi lebih manusiawi. Oleh karena itu, setiap tingkah laku pendidik hendaknya senantiasa dijiwai oleh esensi tujuan pendidikan tersebut. Sebagai pendidikaa ia adalah seorang professional yang tentunya terikat oleh etika profesi, kemanapun ia melangkah dan apaun yang dilakukannya berpijak pada titik tumpu ini, pendidik selayaknya memiliki kompetentsi professional serta integritas professional tertentu. Kompetensi guru meliputi: kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotor.
Integritas professional pendidik diuraikan menjadi dua bagian, yakni: sikap – sikap etis (tanggung jawab, dil, dan cinta), dan kewajiban moral (kebenaran, keadilan, kejujuran, dan berpikir serta berperilaku ilmiah). Mengutip pendapat klasik-universal, pendidikan perlu menempatkan pribadi manusia sebagai inti dari proses pendidikan itu sendiri. Dalam pedagogi ini, disangga oleh tiga pilar utama, yakni perhatian pada pribadi manusia, penghormatan pada keunikan individu, dan kebersamaan (Indra Ratna, 2004).
2.4.2 Kritik dan Saran bab VI dan VII
Saran  terhadap dosen pengajar dalam menyampaikan materi Bab VI DAN VII adalah perlunya didukung dengan alat – alat pengajaran seperti gambar, video tape recorder dan sebagainya. Mengingat dalam mekanisme psikologis dari para peserta didik yang akan sangat kompleks dalam membuat gambaran dan persepsi  tentang proses  “mengajar” yang sangat kompleks dalam konteks ini.  Dan dalam uraian “Dimensi etis pendidik” penulis berpendapat bahwa dosen pengampu telah memberikan uraian yang cukup jelas untuk dipahami oleh peserta didik. Kritik penulis , yakni dosen hanya perlu memberikan contoh yang cukup jelas dan konkrit agar tidak menimbulkan terjadinya multitafsir oleh para peserta didik.
2.5. Bahasa dan Pendidik
Poin yang menurut penulis penting ialah tentang bahasa mempunyai hubungan timbal balik dengan perasaan dan pemikiran. Bahasa sebagai salah satu sarana berfikir ilmiah merupakan faktor strategis yang harus di kuasai oleh pendidik. Kalau pikiran jernih dan teratur maka kata yang di ucapkan juga akan terang dan jernih, begitu juga seballikanya bila pikiran kita kacau maka kata yang keluar juga kacau, semrawut. Penguasaan bahasa sangat mempengaruhi keberhasilan didalam pendidikan, karena dengan penguasaan bahasa yang teratur, baik dan tepat akan dapat membantu mempermudah mahasiswa di dalam memahami setiap kalimat penjelasan yang di jelaskan oleh pendidik.
Pada materi pembahasan, kalimat penjelasan sangat mudah di pahami karena bahasa yang di gunakan sangat sederhana. Materi tentang Bahasa dan Pendidik lebih berperan terhadap pemikiran/penjelasan terhadap pemahaman dosen terhadap materi/referensi bacaan, dosen menjabarkan pengertian berdasarkan pemikiran/pemahaman (dari referensi bacaan) secara objektif dari dosen.
Kritik kepada materi adalah ada beberapa kata-kata yang sukar yang tidak di sertai oleh pengertian, seperti paripurna, sehingga menghambat pembaca (mahasiswa) dalam memahami isi bacaan. Penulis menyadari memang tidak seharusnya mahasiswa selalu di berikan pengertian dari kata-kata asing, tujuannya yaitu supaya mahasiswa yang bersangkutan dapat berusaha sendiri mencari pengertian baik dari internet, bertanya kepada orang lain, maupun mencari di Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Ada pula kalimat-kalimat yang membutuhkan penalaran yang tinggi untuk dapat memahasi arti yang di maksud, seperti penjelasan yang ada pada paragraf terakhir dari pembahasan meteri Bahasa dan Pendidik.
“Harapan yang cocok di sanjungkan, ketika salah satu mata rantai (yang sempat terputus) telah usai di kaitkan, semoga ada “gayung yang bersambut”, sehingga akan dilingkatkan lagi mata rantai-mata rantai lain sebagai penyambungnya; dan seketsa “awal” ini kelak akan tidak lagi berepilog sketsa. Semoga di aromaitu terjadisebelum “berkering keringat-air mata”. Untuk memahami maksud dari keterangan tersebut mahasiswa harus berberfikir lebih keras supaya dapat keterangan yang tidak sesat dan juga membutuhkan penalaran yang sangat tinggi dari kalimat-kalimat yang ada pada paragraf terakhir.
Saran kepada materi, diharapkan dosen dapat melengkapi pengertian dari kata-kata yang sukar, tetapi tidak harus semua kata-kata sukar ada pengertiannya, sebaiknya ada beberapa kata-kata atau kalimat yang sukar (seperti yang telah dicontohkan penulis diatas) supaya dapat mendorong mahasiswa aktif dalam bertanya dan juga mencari pengertian secara mandiri.
Pada saat perkuliahan berlangsung dosen lebih menyuruh mahasiswa yang lebih memahami isi materi di karenakan memang materi tentang Bahasa dan pendidik hanya berupa “sketsa lukisan yang belum jadi” sehingga mahasiswa dapat memahami materi secara mandiri.
Kritik kepada dosen, diharapkan dosen dapat menjelaskan pengertian-pengertian dari kalimat pembahasan yang menurut dosen sukar untuk di pahami, sehingga dapat membantu mahasiswa dalam memahami isi materi, karena pada materi pembahasan tentang Bahasa dan Pendidik mahasiswa hanya di suruh memahami secara mandiri serta menanyakan hal-hal yang kurang jelas. Disisi lain memang mahasiswa sendiri yang salah, karena tidak berani untuk bertanya. Semoga hal ini bukan semata-mata pandangan subjektif penulis tetapi objektif dari pandangan mahasiswa yang lain. Penulis rasa mahasiswa yang lain juga mengalami kesulitan-kesulitan yang sama tentang pengartian kata dan kalimat.
2.6. Pendidik Berdimensi Etis
Guru adalah tenaga pendidik yang fungsi utamanya mengajar, dalam arti mengembangkan ranah cipta rasa, dan karsa siswa sebagai implementasi konsep ideal mendidik. Di banyak Negara maju pendidikan keguruan diselengaarakan secara seimbang antara kegiatan kelas dengan kegiatan praktik lapangan. Bahkan di salah satu Negara tetangga sudah terdapat beberapa lembaga pendidikan keguruan yang hamper seluruh kegiatannya diselengaarakan di sekolah-sekolah tempat praktik.
Karakterikstik kepribadian guru meliputi: fleksibilitas kognitif dan kterbukaan psikologis. Kompetensi guru adalah kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesinya meliputi kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotor. sedangkan profesionalisme berarti kualitas dan perilaku khusus yang menjadi cirri khas guru professional. Jadi, guru yang professional ialah guru yang kompeten dan melaksanakan tugas mengajar sebgai satu-satunya profesi utama yang wajib dilaksanakan,
Materi tentang Pendidik Berdimensi Etis tidak di jelaskan secara detail oleh dosen pengampu (hanya garis besar), dosen memberikan instruksi kepada  mahasiswa untuk mempelajari sendiri. Penulis setuju dengan keputusan dosen, karena pada isi pembahasan dari materi Pendidik Berdimensi Etis sebagian sudah banyak di bahas di bab-bab sebelumnya dan dosen pengajar juga mengaitkan dengan cerita – cerita dan kasus yang relevan dengan topik bahasan ini.
2.7. Renungan
Poin penting yang dapat penulis petik dari materi  “Renungan” yang diberikan oleh dosen pengampu adalah kecacatan yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini. Rendahnya kualitas dan mutu dari para lulusan dan ketidakmampuan dari lembaga pendidikan untuk  menghasilkan lulusan yang berpijak pada nilai – nilai etis dan moral,  adalah beberapa problematika paling besar dalam dunia pendidikan yang dapat kita lihat sekarang.Disimpulkan  bahwa lulusan yang dihadasilkan tidak sesuai dengan lapangan kerja yang tersedia maka pendidikan telah gagal. Bila ternyata pendidikan hanya memberikan kesehatan/kekuatan fisik, kecerdasan, ilmu, keterampilan, maka pendidikan itu dapat menghasilakn binatang yang sehat-kuat,cerdas,berilmu,terampil. Solusi terhadap permasalahan yang demikian adalah pendidikan harus mampu mencipatakan insan kemanusiaan yang tinggi, cerdas,berilmu dan terampil.
Kritik penulis terhadap  kepada dosen pengampu yakni, harusnya, istilah- istilah dari iman dan kalbu hendaknya diganti dengan istilah yang lebih terarah seperti etika, moral, dan kecerdasan emosi penggunaan istilah iman dan kalbu masih sangat abstrak dan mengingat kedua istilah tersebut, yakni, “iman” dan “kalbu” sangat jarang digunakan dalam rangka menjelaskan bahasan-bahasan dalam bidang ilmu psikologi.






BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Belajar merupakan salah satu bahasan dan topik dalam ilmu psikologi. Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur  yang sangat fundamental dalam peneyelengaaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode – metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai kebutuhan, dalam pengertian yang luas dan representative pendidikan islah seluruh tahapan dan pengembangan kemampuan perilaku – perilaku manusia, juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan
psikologi pendidikan disini sebagai sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan sumber –sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas sebagaui seorang guru dalam proses belajar mengajar secara lebih efektif ( Barlow, 1985). Psikologi pendidikan adalah cabang dari ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan yang memberikan sumbangsih berupa ilmu psikologi terhadap dunia pendidikan dalam kegiatan pendidikan, pembelajaran, pengambangan kurikulum, proses belajar mengajar, system evaluasi, layanan konseling, serta beberapa kegiatan utama dalan pendidikan terhadap peserta didik, pendidik, masyarakat, orang tua, dan pemerintah agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara sempurna dan tepat guna.
Pendidikan dipandang sebagai sebuah konsep ideal sedangkan pengajaran adalah konsep operasional yang berujuan untuk menumbuhkembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran. Psikologi pendidikan mencakup semua hal yang bersifaat kependidikan terutama hal belajar, mengajar, dan mengajar- belajar. Prinsip, konsep, dan metode psikologi pendidikan merupakan landasan berpikir dan bertindak bagi gutu dalam mengelolan proses belajar mengajar yang selaras dengan kebutuhan dan keadaan siswa.
Pendidikan bukan hanya soal kemampuan untuk menguasai informasi – teknologi, tetapi kemampian untuk menginternalisasikan nilai – nilai dalam kehidupan. Dalam perspektif psikologi, antara belajar, memori, dan pengetahuan, terdapat hubungan yang tak terpisahkan. Memori yang biasanya kita artikan sebagai ingatan sesungguhnya adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, dan ia merupakan storage system, yakni sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia. Proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Belajar sebagai aktivitas yang berproses, sudah tentu di dalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap.Factor factor yang memengaruhi belajar terdiri atas  fator internal (fisiologis, psikologis, dan intelegensi) dan factor eksternal (lingkkungan social, lingkungan nonsosial seperti rumah,gedung,sekolah,dan sebagainya).
Mengajar pada asasnya adalah kegiatan mengembangkan seluruh potensi ranah psikologis melalui penataan lingkungan sebaik – baiknya dan menhubungkannya kepada siswa agat terjadi proses belajar.secara kuantitatif mengajar berarti menyampaika  pengetahuan sebanayak – banayaknya. Secara institusional mengajar berarti mengadaptasikan teknik mengajar sesuai dengan bakat, kemampuan dan kebutuhan siswa. Secara kualitatif mengajar berarti membantu memudahkan siswa dalam membentuk makna dan pemahamannya sendiri.
3.2. Kritik
Kritik terhadap dosen pengajar sendiri yakni penulis simpulkan melalui beberapa pengalaman yang penulis dapati ketika mengikuti proses perkuliahan dan diluar proses perkuliahan. Perilaku bertanya dan aktif dari beberapa oknum peserta didik yang sering terlihat, Bukan sebagai representasi bahwa peserta didik tersebut benar-benar aktif dan menyimak  dalam penyelenggaraan proses pembelajaran yang berlangsung . melalui obrolan ringan yang penulis lakukan terhadap beberapa mahasiswa yang aktif yakni mereka hanya mengajukan pertanyaan agar dosen pengajar dengan cepat dapat menyelesaikan desakannya untuk bertanya kepada mahasiswa padahal peserta didik tersebut sama sekali tidak menyimak dan bahkan tidak tahu materi apa yang tengah dibicarakan oleh dosen pengjar.
Melalui kritik ini penulis mengharapkan ahar hal ini dapat menjadi pekerjaan rumah bagi dosen pengajar supaya  untuk proses perkuliahan kedepannya mampu melibatkan perilaku mahasiswa secara total ke arah proses pembelajaran.mencari metode dan starategi yang paling tepat mengingat  perilaku peserta didik yang sangat kompleks dan beragam,  Pengajaran dan pembelajaran hendaknya bersifat partisipatif dan dalam ranah yang diskursif untuk mencairkan kebuntuan antar sesama, yakni antara pihak dosen dan mahasiswa.
3.3. Saran
Adapun saran penulis kepada dosen pengampu demi meningkatkan, serta mensukseskan proses kependidikan antaralain :
1.      Penulis memberikan saran untuk lebih merperbanyak penggunaan  istilah – istilah  dalam disiplin ilmu psikologi  untuk menjelaskan materi terkait, dengan harapan dapat memperluas kosa kata dan agar peserta didik lebih akrab dengan istilah-istilah dalam ilmu psikologi.  mengingat para pserta didik merupakan mahasiswa yang masih berada pada semester ke 2 proses perkuliahan.
 2.     Hendaknya dosen pengajar menambahkan contoh-contoh yang lebih konkrit dan jelas, serta member porsi lebih  menjelaskan kasus–kasus yang relevan dengan materi perkuliahan dan mengurangi cerita – cerita yang tidak ada kaitannya saat menjelaskan materi pelajaran terkait, mengingat jam perkuliahan yang terbatas.  penulis dalam hal ini sebagai partisipan dan peserta didik dalam proses pembelajaran terkadang tidak mampu menangkap substansi – substansi dari materi yang dijelaskan secara utuh.
3.         Dosen hendaknya tidak terlalu cepat menyimpulkan perilaku mahasiswa yang diam dan enggan bertanya merupakan indikator dari ketidak-akfifan mahasiswa dalam proses belajar-mengajar, tentunya , mengingat bahwa  perilaku kognitif sendiri tidak hanya dapat disimpulkan secara kasat mata. Solusi yang tepat untuk  keadaan demikian yakni dosen mungkin dapat meminta mahasiswa yang terlihat demikian untuk menuliskan pendapat mereka secara ringkas melalui media kertas berupa tulisan, dan dosen hendaknya tidak bertele-tele ketika ingin menunjuk mahasiswa yang ingin bertanya atau menjawab, dosen bisa langsung menunjuk mereka para peserta didik yang terlihat kurang aktif dalam proses perkuliahan


















DAFTAR PUSTAKA
Majid , Abdul . (2008). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sarwono, Sarlito W. (2009). Pengantar psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pres
Indara Ratna, K.W. 2009. Replika Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Muhibbin Syah. 2010. Psikologi Pendidikan. Dengan Pendekatan Baru. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Santrock, John, W. 2002. Life Span Development Jilid I. Jakarta : Erlangga.


                                                                                           















Tidak ada komentar:

Posting Komentar