Rabu, 15 Juli 2015

Metode-metode dalam Psikologi



Metode-metode dalam Psikologi
                Tokoh detektif hercule poirot karya Agatha Christie senantiasa membanggakan keberhasilannya. Yang ia tekankan adalah penggunaan sel-sel kelabiu (pikiran) dan untuk itu diperlukan metode. Demikian juga dengan psikologi. Selayaknya ilmu pengetahuan, terdapat metode-metode dalam penelitiannya sehingga dapat diterapkan pada kehidupan. Beberapa metode dalam psikologi akan diterangkan berikut ini.
Metode Eksperimental
                Cara ini dilakukan biasanya di dalam laboratorium dengan mengadakan berbagai eksperimen. Satu hal yang penting di sini adalah bahwa orang yang melakasanakan eksperimen (eksperimenter) tersebuat harus dapat menguasai situasi, yang berarti bahwa peneliti harus dapat menimbulkan atau menghilangkan berbagai macam situasi sesuai dengan kehendaknya. Hal ini dikarenakan metode ini hendak menemukan prinsip-prinsip yang bekerja dalam tingkah laku atau hendak mengungkapkan hubungan sebab akibat (Turner dan Helms, 1995; Feldman, 2003).
                Dengan  menimbulkan atau meniadakan situasi-situasi tertentu, maka peneliti dapat melihat reaksi-reaksi tertentu pula dari orang yang sedang diperiksa. Dengan kata lain, situasi dalam eksperimen sengaja dibuat.
                Metode penelitian pada umumnya dimulai dengan hipotesis, yakni prediksi/peramalan, percabangan dari teori, diuraikan dan dirumuskan sehingga bisa diujicobakan. Proses eksperimen dimulai dengan pembagian kelompok. Pertama, kelompok yang tidak mengalami perlakukan khusus. Kelompok ini selanjutnya disebut sebagai kelompok kontrol. Kelompok lainnya menerima perlakuan khusus. Kelompok ini yang kemudian disebut sebagai kelompok eksperimen. Adapun yang dilakukan terhadap kelompok eksperimen adalah perlakukan yang secara khusus dibuat untuk menghasilkan situasi yang diinginkan.
                Yang perlu diingat dari metode ini adalah prinsip dasarnya yang memanipulasi kondisi dan manusia dilihat dari organism yang sama (tidak ada perbedaan individual). Dengan demikian, metode ini hanya mencari hukum-hukum saja mengenai berbagai tingkah laku dan kurang memerhatikan perbedaan-perbedaan individual.

Observasi Alamiah
            Dalam metode eksperimen di atas, jelas bahwa peneliti punya kontrol sepenuhnya terhadap jalannya eksperimen. Ialah yang menentikan akan melakukan apa pada orang atau hewan yang ditelitinya, kapan akan dilakukan, seberapa sering, dan sebagainya.
                Tidak demikian halnya dengan observasi alamiah. Dalam observasi alamiah tidak ditimbulkan situasi-situasi dengan sengaja. Disini hanya dilakukan pengamatan terhadap situasi yang sudah ada, situasi yang terjadi secara spontan (tidak terstruktur) (Turner dan Helms, 1995), tidak dibuat-buat dan karenanya dapat disebut sebagai situasi yang sesuai dengan kehendak alam, yang alamiah. Hasil pengamatan ini kemudian dicatat dengan teliti untuk kemudian diambil kesimpulan-kesimpulan umum maupun kesimpulan khusus (individual) (Bachtiar,1977). Misalnya, pada sekelompol pengunjuk rasa bisa diamati siapa yang menjadi pimpinannya dan dikenali bagaimana pola/cara dia mendorong/memberikan semangat kepada kelompoknya. Pada saatnya, hasil pengamatan ini bisa digunakan untuk menyusun langkah-langkah untuk mengantisipasi atau mencegah pemimpin itu melaksakan niatnya,
                Observasi alamiah ini dapat diterapkan pula pada berbagai gejala tingkah laku lain, misalnya tingkah laku orang-orang di toko serba aada, tingkah laku pengendara-pengendara kendaraan bermotor di jalan raya, tingkah laku anak yang sedang bermain atau perilaku orang dalam bencana alam.

Sejarah Kehidupan
            Sejarah hidup seseorang dapat merupakan sumber data yang penting untuk mengetahui “jiwa” orang yang bersangkutan. Misalnya, dari cerita ibunya, seorang anak yang tidak naik kelas mungkin diketahui bahwa ia bukannya kurang pandai, tetapi minatnya sejak kecil memang di bidang musik sehingga ia tidak cukup serius untuk mengikuti pendidikan di sekolah. Contoh lain, riwayat hidup calon pegawai sering digunakan oleh petugas SDM (Sumber Daya Manusia) untuk menilai apakah ia seorang yang tekun, rajin, mau belajar atau tudak serius sehingga bisa diterima sebagai pegawai atau tidak.
                Sejarah kehidupan ini dapat disusun melalui dua cara, yaitu:
a.            Pembuatan buku harian. Mulai suatu saat tertentu orang yang diperiksa disuruh menulis buku harian untuk beberapa lama dan sewaktu-waktu diperiksa untuk diadakan penilaian.
b.            Rekontruksi biografi. Cara ini lebih sering dilakukan. Pertama-tama, dikumpulan data mengenai riwayat hidup orang yang akan diperiksa. Data inilah yang kemudian disusun kembali menjadi biografi. Data sejarah hidup itu bisa didapatkan melalui:
                1)            wawancara dengan orang yang bersangkutan sendiri (autoanamnesis) atau
                2)            wawancara dengan orang lain yang kenal dengan orang yang diperiksa, misalnya orang  tuanya, saudara-saudaranya, kawan-kawannya, kepala kantornya dan sebagainya (alloa   anamnesis).
                Beberapa contoh adalah autobiografi Soekarno, Hatta, dan sebagainya.

Wawancara
Metode ini awalnya cukup sederhana. Wawancara adalah Tanya jawab antara si pemeriksa dan orang yang diperiksa (klien untuk psikolog klinik, responden atau narasumber untuk peneliti, atau calon pegawai bagi psikolog perusahaan). Maksudnya adalah agat orang yang diperiksa itu mengemukakan isi hatinya, pandangan-pandangannya, pendapatnya dan lain-lain sedemikian rupa sehingga pewawancara dapat menggali semua informasi yang diperlukan. Pada kasus penelian kualitatif, wawancara menhadi alat bantu dan metode observasi (Koentjaraningrat, 1977). Wawancara yang baik memerlukan latihan yang banyak karena tidak mudah untuk membuka pintu hati seseorang dalam waktu singkat yang tersedia.
                Ada beberapa teknik wawancara, yaitu:
a.            Wawancara bebas, pertanyaan dan jawaban diberikan sebebas-bebasnya oleh pewawancara maupun yang diwawancara. Teknik in idigunakan dalam psikoterapi dan dikenal dengan nama asosiasi bebas (free association), yang diperkenalkan oleh tokoh psikoloanalisis Sigmund Freud.
b.            Wawancara terarah, dalam hal ini sudah ada beberapa pokok yang harus diikuti pewawancara dalam mengadakan wawancara.
c.             Wawancara terbuka, pertanyaan-pertanyaan sudah ditentukan sebelumnya, tetapi jawaban dapat diberikan bebas, tidak terikat.
d.            Wawancara tertutup, pertanyaan-pertanyaan sudah ditentukan sebelumnya dan kemungkinan-kemungkinan jawaban juga sudah disediakan sehingga orang yang diperiksa tinggal memilih antara kemungkinan-kemungkinan jawaban itu misalnya antara “ya” atau “tidak” atau antara “sangat setuju,” “setuju,” dan “tidak setuju.”
Angket
            Angket adalah wawancara tertulis. Pertanyaan sudah disusun secara tertulis dalam lembar-lembar pertanyaan. Orang yang akan diperiksa tinggal membaca pertanyaan-pertanyaan itu dan memberi jawaban-jawaban secara tertulis pula pada kolom-kolom yang sudah disediakan, jawaban-jawaban itu selanjutnya akan dianalisis untuk mengetahui hal-hal yang sedang diselidiki (Soemadrjan, 1977; Turner dan Helms, 1995).
                Seperti halnya dalam wawancara, angket pun terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang terbuka dan tetutup. Dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang tertutup, termasuk angket khusus yang disebut skala sikap, yaitu yang isinya adalah pertanyaan-pertanyaan tentang suatu hal tertentu dan orang yang sedang diteliti (responden) diminta menyatakan sikapnya (sangat setuju sampai dengan sangat tidak setuju) terhadap masing-masing pertanyaan tersebut.
                Keuntungan angket adalah daya sebarnya yang luas kepada masyarakat. Angket yang dalam menanganinya tak perlu pengamat sebanyak pengisi angket sehingga waktu pengumpulan data menjadi singkat (Soemardjan, 1977).
                Kelemahan angket adalah bahwa alat ini tidak mampu untuk melihat ekspresi-ekspresi wajah, gerak, perasaan, dan lain-lain dan data yang digali pun sangat terbatas. Sebaliknya, angket berdaya jangkau luas dan tidak memerlukan keahlian khusus untuk mengumpulkan datanya. Angket juga mudah dikumpulkan dalam jumlah besar, wilayah yang luas, dan dalam tempo yang tidak terlampau lama. Dengan demikian, untuk survei-survei yang membutuhkan data dari sejumlah besar orang, biasanya digunakan angket.

Pemeriksaan Psikologis
                Secara popular metode ini dikenal dengan nama “psikotes.” Metode ini menggunakan alat-alat psikodiagnostik tertentu yang hanya dapat digunakan oleh para ahli yang benar-benar terlatih. Alat-alat itu dipergunakan untuk mengukur dan mengetahui taraf kecerdasan, arah minat, sikap, struktur keperibadian dan lain-lain dari orang yang mau diperiksa itu.
                Keuntungan metode ini adalah bahwa waktu yang relatif sangat singkat dapat dikumpulkan banyak data mengenai diri seseorang, termasuk juga data yang tidak diketahui melalui metode-metode lainnya. Keuntungan lainnya adalah bahwa metode ini dapat dilaksanakan secara massal sehingga dapat diperiksa banyak orang sekaligus, bahkan jika diperlukan dapat dilakukan melalui telepon atau internet. Kelemahan metode ini adalah tidak dapat dipergunakan secara luas karena hanya dapat dilakukan oleh orang yang terlatih.
                Metode pemeriksaan psikologis lain yang bersifat individual juga ada. Salah satu yang terkenal adalah tes proyektif kepribadian, yakni seseorang diperlihatkan stimuli ambigu dan ia diminta untuk menceritakannya. Respons itulah yang kemudian disebuat sebagai proyeksi tentang dirinya (Danandjaja, 1988; Feldman, 2003). Salah satu alat ukut tes proyeksi ini adalah tes Rorschach. Tes ini dikembangkan oleh Herman Rorshach (1924), psikiater asal Swiss.

Referensi:

Sarwono, Sarlito W. (2009). Pengantar psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers






                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar